Seberapa Akuratkah PCR Saliva Test untuk Covid-19?

Sudah hampir satu tahun lamanya pandemik Covid-19 ini berlangsung. Namun, di Indonesia sendiri, saat ini masih banyak orang yang terpapar virus corona ini. Banyaknya orang yang terinfeksi membuat jumlah tes atau uji sampel orang yang berisiko pun makin tinggi. 

Berbagai test dilakukan untuk mendeteksi paparan virus corona pada tubuh seseorang, salah satunya PCR saliva test. Salah satu jenis tes untuk mendeteksi apakah seseorang terpapar virus corona atau tidak. Namun, seberapa akuratkah tes tersebut? Berikut penjelasannya!

Tes Covid-19

Untuk mendeteksi Anda terpapar virus corona atau tidak, Anda memiliki opsi yang nyaman dan lebih mudah untuk dilakukan pengujian, selain metode swab test yang dilakukan dengan mengambil cairan dari hidung atau tenggorokan. 

Salah satunya pengujian dengan menggunakan air liur atau saliva test. Pengujian dengan pengambilan sampel ini dapat digunakan untuk mereka yang memiliki gejala ringan atau diketahui atau diduga terpapar pada seseorang yang terinfeksi Covid-19. 

Tes air liur atau saliva test sangat sensitif, dan ini dapat mendeteksi virus. Namun, meskipun begitu, PCR saliva test tidak sepenuhnya atau bukan satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan positif atau tidaknya seseorang akan virus corona. Hasil negatif pun harus dikombinasikan dengan penilaian klinis, riwayat pasien, dan data epidemiologi. 

Hasil tes sendiri diinterpretasikan dalam konteks gejala, dan terkadang tes ulang pun diperlukan untuk hasil apakah seseorang terpapar Covid-19 atau tidak. Pasalnya, sampai sekarang pun tidak ada uji spesimen yang akurat 100%.  

Seberapa akuratkah PCR saliva test?

Tes air liur ini mendeteksi materi genetik virus dalam sampel air liur dengan kecepatan yang sama seperti menyeka atau mengumpulkan sampel melalui hidung atau tenggorokan. 

Sebuah penelitian dari Memorial Sloan Kettering mengumpulkan sampel dari 285 karyawan pada 4 April dan 11 Mei 2020 lalu, di New York. Para partisipan memiliki gejala virus atau pernah terpapar. Masing-masing partisipan memberikan sepasang sampel. 

Beberapa diminta untuk melakukan sampel nasofaring yang diambil melalui hidung dan sampe air liur. Beberapa menyediakan sampel orofaringeal yang dikumpulkan melalui mulut dan air liur. Yang lain menyediakan sampel nasofaring dan sampel dari bilasan oral. 

Peneliti menemukan bahwa kesepakatan antara air liur dan sampai yang diberikan melalui mulut adalah 93%, dengan sensitivitasnya adalah 96,7%. 

Sedangkan sampel yang diberikan melalui hidung dan air liur memiliki hasil yang sesuai yaitu 97,7%, dengan sensitivitas 94,1%. Kumur oral hanya efektif 63% dalam mendeteksi virus. Kesepakatan antara sampel hidung (swab) dan oral rinse adalah 85,7%.Studi tersebut baru-baru ini dipublikasikan secara online di The Journal of Molecular Diagnostics

Jadi, PCR saliva test adalah salah satu pilihan yang lebih murah dan efektif dalam melakukan uji sampel yang layak. 

Hal ini pun didukung oleh pernyataan Food and Drug Administration (FDA) mengatakan jika hasil dari saliva test adalah negatif, maka Covid-19 tidak ditemukan dalam spesimen yang di uji pada Anda. 

Centers for Diseade Control Prevention atau CDC mengatakan, walaupun, ada kemungkinan sebuah tes akan memberikan hasil negatif pada orang yang mengidap Covid-19 atau yang dikenal dengan false negative. Jika hal tersebut terjadi, Anda harus mengkonsultasikan hal tersebut pada dokter untuk menentukan apakah Anda harus melakukan tes lanjutan atau tidak. 

False negative dapat terjadi karena beberapa hal. Oleh karena itu, pasien tidak boleh melakukan tes sebelum 5 hingga 7 hari setelah terpapar, bahkan dengan gejala dan mereka harus menganggap diri mereka berpotensi menular sampai benar-benar terbukti negatif Covid-19. 

Jadi, kesimpulannya melakukan PCR saliva test adalah salah satu cara yang efektif dengan akurasi yang tinggi untuk menguji apakah diri Anda terpapar virus Covid-19 atau tidak. Namun, untuk menghindari false negative, ada baiknya untuk menunggu sekitar 5-7 hari setelah terpapar, baru Anda melakukan tes menggunakan air liur atau melalui hidung atau tenggorokan. Konsultasikan dengan dokter Anda, apa tes yang sebaiknya Anda lakukan untuk mendeteksi virus corona.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*