Magic Mushroom Masuk Kategori Psikotropika Golongan I, Benarkah?

Jamur adalah jenis tumbuhan yang tidak memiliki klorofil dan sebagian besar hidupnya sebagai parasit. Jamur terdiri atas berbagai macam, mulai dari yang dapat dimakan, dijadikan sebagai obat, maupun jamur yang tidak dapat dikonsumsi atau beracun. Magic mushroom adalah salah satu spesies jamur yang mengandung senyawa kimia psilocybin yang dapat memberikan efek halusinasi. Lalu, benarkah magic mushroom ilegal dan termasuk ke dalam psikotropika golongan I? Ini dia penjelasannya.

Seperti apakah magic mushroom sebenarnya?

Magic mushroom atau disebut juga dengan psilocybin merupakan salah satu senyawa kimia yang bersifat halusinogen. Senyawa ini bekerja dengan mengaktifkan reseptor serotonin yang terdapat di korteks prefrontal di otak. Aktifnya reseptor serotonin akan memengaruhi kognisi, persepsi, dan suasana hati, seperti peningkatan gairah atau rasa cemas terhadap sesuatu.

Saat Anda mengonsumsi jamur ini, maka usus akan mencerna dan menyerap senyawa psilocybin. Kemudian, tubuh mengubahnya menjadi psilocyn yang akan mengaktifkan reseptor serotonin di otak. Efek halusinogenik psilocybin biasanya terjadi dalam waktu 30 menit setelah dikonsumsi dan bisa berlangsung selama 4 – 6 jam. Beberapa individu yang mengonsumsi magic mushroom juga dapat mengalami perubahan persepsi sensorik dan pola pikir yang berlangsung selama beberapa hari.

Magic mushroom berukuran kecil dan umumnya, berwarna cokelat. Jenis jamur ini dapat Anda temui di alam liar. Banyak orang mengira jamur yang mengandung psilocybin ini mirip dengan jamur beracun pada umumnya. Oleh sebab itu, potensi jamur untuk dimanfaatkan sangat bergantung pada:

  • Spesies.
  • Asal.
  • Kondisi pertumbuhan.
  • Panen perio.
  • Apakah seseorang memakannya segar atau kering? Sebab, jumlah bahan aktif dalam jamur kering sekitar 10 kali lebih tinggi dari pada jamur segar.

Selain itu, tersedia juga psilocybin sintentis dalam bentuk bubuk kristal putih yang dapat diolah menjadi tablet, kapsul, atau langsung dilarutkan dalam air.

Efek mengonsumi magic mushroom.

Efek yang akan Anda rasakan setelah mengonsumsi magic mushroom sebenarnya mirip dengan senyawa halusinogen lainnya, seperti lysergic acid diethylamide (LSD). Reaksi psikologis dari psilocybin meliputi halusinasi dalam penglihatan, pendengaran, dan tidak dapat membedakan antara nyata dan fantasi. Reaksi panik dan gangguan mental juga berisiko terjadi jika psilocybin dikonsumsi dalam dosis tinggi.

Senyawa yang bersifat halusinogen yang “mengganggu” kerja serotonin di otak dapat memengaruhi suasana hati, saraf sensorik, kualitas tidur, nafsu makan, suhu tubuh, perilaku seksual, dan kontrol otot. Penggunaan psilocybin bersamaan dengan zat lain, seperti alkohol dan mariyuana dapat meningkatkan atau memperburuk efek tersebut.

Alcohol and Drug Foundation menjelaskan bahwa efek bila menghentikan penggunaan magic mushroom masih belum banyak diketahui. Namun, ada dugaan bahwa seseorang yang menarik diri (withdrawl) dari jamur ini mungkin akan mengalami beberapa efek psikologis atau kelelahan.

Penyalahgunaan magic mushroom juga dapat menyebabkan keracunan atau kematian jika Anda keliru dalam membedakan jamur ini dengan jamur beracun dan menelannya. Apabila muncul gejala muntah, diare, atau kram perut setelah mengonsumsi jamur, ada kemungkinan Anda mengalami keracunan jamur. Segera cari bantuan medis atau temui dokter untuk mendapatkan pengobatan dengan segera.

Fakta magic mushroom sebagai psikotropika golongan I.

Dilansir dari Drugs, psilocybin adalah zat golongan I di bawah Undang-Undang Zat Terkendali DEA. Senyawa ini berpotensi tinggi disalahgunakan, kurang aman digunakan untuk pengobatan, dan tidak ada aturan sah penggunaannya secara medis. Ditambah lagi, tidak ada penggunaan psilocybin secara komersil.

Saat ini, psilocybin tidak tersedia untuk digunakan sebagai obat yang diresepkan oleh dokter, karena terdaftar sebagai obat golongan I oleh Drug Enforcement Agency (DEA). Para peneliti mungkin hanya bisa mendapatkan senyawa ilegal ini untuk penelitian melalui keringanan khusus yang diberikan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA).

Jika seandainya psilocybin sudah bisa diresepkan untuk pasien, maka psilocybin harus diklasifikasikan ulang sebagai obat golongan II. Artinya, magic mushroom atau psilocybin bisa digunakan secara medis, tetapi dengan pembatasan yang sangat ketat. Ini karena magic mushroom berpotensi tinggi memberikan efek kecanduan dan gejala penarikan obat (withdrawl syndrome). Oleh sebab itu, masih perlu penelitian klinis lebih lanjut terkait penggunaan magic mushroom dalam dunia medis.

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*